Senin, 24-12-2018 01:43 PM

Wanita Satgas TNI MPU Konga hadirkan kebersamaan dan kebahagiaan di Lebanon

Pen Puspomad
Kehadiran Wanita TNI (Wan TNI) Satgas Satuan Polisi Militer (MPU) Konga XXV-K / UNIFIL, bangun kebersamaan dan kegembiraan penduduk lokal Lebanon di daerah Deir Mimmas Lebanon Selatan. Hal ini disampaikan Komandan Satgas (Dansatgas) MPU Konga XXV-K / UNIFIL, CPM Letkol Sony Yusdarmoko, SH, M.Si. (Han) dalam rilis tertulisnya, Lebanon, Sabtu (22/12/2018). 

Sebagai satuan jajaran dari Sektor Timur UNIFIL, Unit Polisi Militer Sektor (SEMPU) tidak hanya terkait kegiatan operasional tetapi juga kegiatan sosial, baik yang terkait dengan partisipasi juga dari komando atas.

Terkait kegiatan sosial ini, dijelaskannya, bahwa peran wanita TNI dalam tugas ini cukup signifikan, baik dalam rangka membangun interaksi dan komunikasi antara Satgas dengan masyarakat, juga sebagai bentuk trauma penyembuhan.

"Tim Asesmen / Analisis dan Dukungan Wanita (FAST), merupakan program CIMIC (Koordinasi Militer Sipil) yang lebih mengedepankan peran wanita. Para pesertanya terdiri dari 15 orang dan dua orang dari kita," jelas Sony 

Selain Indonesia, program lain yang terlibat dalam program ini adalah Nepal, Spanyol, El Salvador, dan Serbia. Dua orang anggota Wan TNI dalam FAST yaitu Sertu (K) Nidya Metriya dan Sertu (K) Dhita S. Naibaho.

"Mulai 20 sd 21 Desember, mereka mengikuti kursus pelatihan tentang manifacturing produksi pertanian. Ini merupakan kegiatan gabungan wanita penjaga perdamaian dengan warga lokal Lebanon di daerah Deir Mimmas Lebanon Selatan," katanya.

Lebih lanjut, lulusan Seskoad tahun 2014 ini mengutarakan bahwa dalam program ini para wanita penjaga perdamaian dapat berinteraksi langsung dengan ibu-ibu warga Lebanon, kegiatan belajar membuat kue dan cara membuat ekstrak dari daun rosemary.

"Kedatangan para wanita penjaga perdamaian ini disambut hangat dan antusias oleh ibu (ibu-ibu). Apalagi pada hari kedua, terasa istimewa, karena dihadiri langsung oleh Komandan Sektor Timur UNIFIL, Brigjen D. Antonio Romero Losada. "katanya.

"Keceriaan dan kebersamaan para wanita penjaga perdamaian dan ibu-ibu warga lokal ini terlihat saat mereka bersama-sama mendengarkan musik dan menari bersama," sambungnya.

Kehadiran para wanita penjaga perdamaian ini, menurut lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 2000 ini, tidak hanya berkaitan dengan berbagi pengalaman tetapi juga terkait dengan perempuan yang dapat menjadi bagian dari penyembuhan trauma bagi warga lokal.

"Tergambar dari raut mukanya, mereka bergembira dan bisa melupakan konflik yang tengah dialaminya. Ini berkaitan dengan kesulitan perempuan dalam menjalankan operasi pemeliharaan perdamaian dunia," pungkasnya.
 
87

© 2019 PUSPOM TNI-AD